Kamis, 26 Juni 2008
Pinggir yang Tak Punya Berpusat
Ketika Iwan Fals melekatkan istilah pinggir pada manusia, melalui lagu ”Orang Pinggiran”, tentu sang pengarang telah melihat orang-orang yang berada di pinggir(kan). ”Orang pinggiran
Ada di lingkaran
Berputar-putar
Kembali ke pinggiran”
Mungkin bagi Iwan Fals, orang pinggiran adalah mereka yang terkena dampak paling besar ketika trjadi guncangan di pusat, sementara ketika area pinggir hilang, tak ada dampak apapun yang dirasakan pusat. Dari sini terlihat bahwa pinggir adalah bagian yang tak diperlukan. Bagian pinggir adalah bagian pertama yang dijadikan tumbal.
Tetapi hal yang berbeda terjadi dalam sepak bola. Ronaldinho, Frank Ribery adalah seorang playmaker, pengatur irama permainan, yang lebih suka beroperasi di sayap (pinggir). Mereka menunjukkan jalannya irama permainan tak harus berada di tengah, mereka memindahkan titik pusat. Mereka menunjukkan bahwa pinggir pun bisa menjadi ”pusat” permainan. Di sini pusat menjadi hal yang sangat relatif.
Dalam drama reformasi 1998, banyak orang-orang yang muncul dan dianggap sebagai tokoh reformasi, pada akhirnya menjadi bagian dari pusat. Hal yang tak biasa terjadi ketika itu, sosok Cak Nun yang mendeklarasikan diri untuk siap untuk tidak menjadi apa-apa, tetap menepati ucapannya. Menepikan dirinya, dan memilih menjadi seorang yang lebih dari Frank Ribery maupun Ronaldinho. Cak Nun tak berusaha memindahkan pusat, biarlah pusat berada di tengah, mungkin begitu pikirnya.
Seorang Gunawan Muhammad juga dilengserkan dari posisi pimred Tempo, meskipun tetap diberikan kompensasi untuk berbisik di halaman terakhir. Kolom yang dinamai ”catatan pinggir” itu memang benar-benar berada di pinggir. Terlepas dari ”cerita kelam” tentang penulisnya, kolom ini, meskipun berada di pinggir, bisa dikatakan telah menjadi nyawa Tempo. Mungkin kebanyakan konsumen majalah tersebut mengeluarkan lebih dari 15.000 hanya untuk membaca kolom catatan pinggir (harga resmi Tempo 24.700). Dengan begini, Gunawan Muhammad bisa disamakan dengan Frank Ribery ataupun Ronaldinho.
Akan tetapi semua tentang tengah, pinggir, maupun pusat di atas, serasa tidak relevan dengan yang terjadi sekarang ini. Semua orang merasa dipinggirkan. Bahkan ”orang-orang pusat” tak merasa dirinya sebagai ”pusat”, melihat posisinya yang justru selalu dipojokkan. (secara tidak langsung terlihat dari pernyataan Presiden tentang BBM beberapa waktu lalu). Apalagi bagi mereka yang bukan pusat, selain memang tak pernah merasa sebagai pusat, mereka juga tak berhak untuk merasakan itu. Di sini, pusat dan pinggir bukan permasalahan tengah atau tepi. Entah permasalahan apa, mungkin ada baiknya jika bertanya pada Wiji Thukul Wijaya.
Ahmad Fahmi Mubarok.
Logis Saja Sudah Cukup (?)
Adagium yang akrab terdengar, mengingat “takdir” geografis yang senantiasa menuntut alam bawah sadar kita sebagai bangsa Indonesia untuk menerapkannya dalam setiap sudut kehidupan. Penerapan adagium tersebut terlihat dan sangat terasa mengiringi nuansa kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya, dan civitas akademika Unnes pada khususnya. Sedemikian indah ungkapan tersebut, tetapi simpang empat Unnes tak pernah tidak semrawut pada jam-jam peak, suara knalpot yang mengekor aliran musik Slipknot, pun kuliah yang tidak bisa serutin kartun Naruto (secara periodik seminggu sekali) karena alasan kesibukan staf pengajar. Lalu apakah ada yang salah dengan ungkapan tersebut?
Semua ilmu bersifat netral, dan praksis manusialah yang memberikannya kesan baik ataupun buruk. Merujuk pada kalimat di atas, adagium “Orang muda menghormati yang lebih tua, orang tua menyayangi yang lebih muda” tentu tidak ada yang salah di dalamnya, dan justru lebih condong ke arah baik. Bersoal-jawab mengenai fenomena tersebut, dimana kesenjangan antara das sein dengan das sollen, ada kemungkinan kekeliruan dalam penerapannya. Perlu diketahui bahwa sebagai tuntunan norma, dua kalimat tersebut adalah dwitunggal jika memang diinginkan untuk diterapkan dalam keseharian. Tetapi dalam kenyataannya, terdapat pemenggalan kalimat, dan celakanya masing-masing pihak (muda dan tua) memegang erat kalimat yang seharusnya menjadi pegangan pihak lainnya. Kalimat “orang muda menghormati yang lebih tua” yang seharusnya menjadi kunci bagi si muda justru dipegang oleh mereka yang tua, dan begitu sebaliknya. Demikian yang terjadi sehingga Si muda terlebih dahulu menuntut agar disayangi oleh Si tua, dan Si tua tak henti-hentinya mengingatkan keharusan dan pentingnya penghormatan kepadanya. Saling menuntut berlanjut saling menyalahkan tidak lagi terhindarkan, melupakan bahwa yang terjadi hamyalah “kunci” yang tertukar.
Kaitan logika, etika, dan estetika
Masih senada dengan fenomena ”kunci tertukar” di atas, kritik sebagai kontrol sosial pun bernasib sama. Sebagai bagian dari civitas akademika tentu tak asing lagi dengan prinsip ”Semua ilmu berawal dari logika, dan berakhir dengan seni melalui tingkatan logis (benar-salah), etis (pantas-tidak pantas), dan estetis (indah-tidak indah) yang berlaku secara hierarkis. Selayaknya sebuah keluarga dimana Orang Tua mendidik anak-anaknya, keluarga besar Indonesia (dan Unnes) juga mempunyai tujuan mengupayakan pendidikan bagi rakyat. Dalam mengupayakan proses pendidikan yang dilakukan, tak jarang Orang Tua melakukan kesalahan yang menuai protes dari Si anak. Sampai disitu semua berjalan sebagai fenomena yang wajar-wajar saja bukan?
Namun ada sesuatu yang tertangkap dan tergolong tidak wajar ketika melihat cara penyampaian kritik-sebagai bentuk protes-dan penyampaian tanggapan yang diberikan. Terkait dengan hierarki yang disebutkan sebelumnya, taraf logis menilai apa yang dilakukan Orang Tua dianggap salah, sehingga mendapatkan kritik. Seharusnya hal ini sudah masuk dalam ranah etis, yang mempertimbangkan bagaimana cara penyampaian kritik yang pantas dan tidak menentang etika agar selaras dengan prinsip hirarki logis-etis-estetis mengingat status civitas akademika yang disandang bersama. Jika hal itu bisa dilaksanakan dengan penuh kesadaran, bukan tidak mungkin akan terjalin hubungan yang indah (estetis) dan tidak terkesan urakan.
Menunjukkan eksistensi
Sedikit menggeser kursi agar didapat angel yang berbeda, apa yang terjadi mungkin bukan lagi permasalahan salah pegang kunci maupun hirarki logis-etis-estetis. Sebagaimana prinsip probabilitas dalam dunia ilmiah, ada kemungkinan yang terjadi hanyalah saling menunjukkan eksistensi baik individu maupun golongan. Secara psikologis pengakuan dan penerimaan sebagai tujuan dari pertunjukan eksistensi merupakan kebutuhan setiap manusia. Hanya saja sebagai makhluk yang berbudaya, manusia lebih suka jalan berliku untuk mencapai tujuan sekedar menghindari pertentangan dengan norma, nilai-nilai, dan hukum yang berlaku. Karena tuntutan sebagai makhluk yang berbudaya adalah dasar pembedaan manusia dan hewan, tak sepantasnyalah manusia memilih mengabaikan norma, aturan, dan hukum yang berlaku untuk mencapai tujuannya. Menunjukkan eksistensi dengan tetap memberikan jalan pada eksistensi lain sebagaimana diungkapkan oleh Voltaire dengan sangat indah ”aku tidak setuju denganmu, bukan berarti melarangmu untuk mengatakannya”
Oleh :
Ahmad Fahmi Mubarok
Mahasiswa Psikologi semester 4
Kebumen, Kebersahajaan Kota Tanpa Semoga
Entah bagaimana sejarah penamaan kota ini, mungkin berasal dari kata “kebo menek” (kerbau yang memanjat), atau mungkin saja “kabumen” (semacam acara sedekah bumi). Tapi yang jelas tulisan ini tidak akan membahas itu. Kota yang terletak di sebelah barat daya Purworejo ini bukanlah kota yang kaya, bahkan menurut keterangan yang semoga saja tidak benar, bahwa kebumen adalah kota yang berpenghasilan per-kapita urutan nomor dua dari bawah di seluruh wilayah Jawa Tengah. Wajar saja, di sana tidak terlihat adanya pabrik seperti di kota Kudus, ataupun pertanian bawang merah seperti di Brebes. Hanya usaha genteng yang masih kalah populer dari kerajinan ukir kota Jepara. Dalam hal pariwisata, kota ini juga masih kalah jauh dari Magelang yang mendunia lewat candi Borobudur, juga tak sesantun stereotip yang dilekatkan pada Surakarta. Lalu apa yang menarik dari secuil wilayah Kedu ini?
Lambaian matahari pagi hari Selasa lalu mulai menyeruak menyapa Kebumen, setelah malam sebelumnya dibuai dalam ruang rindu Letto. Tak berbeda dengan semua kota di dunia, warga kota ini mulai melakukan rutinitas hariannya. Hanya saja, rutinitas pagi tanpa dimeriahkan kepulan asap mesin-mesin modern, melainkan tawa dan gurauan renyah pelajar sekolah di atas sepeda onthel mereka, paling-paling tetesan keringat yang dianggap ”mencemarkan” bagi orang-orang metropolis pecinta ”kebersihan”. Tentu saja bukan tak ada hitam karbon monoksida, tetapi nuansa seperti itu, yang hampir tak lagi ditemui di Semarang. Tegang-regangan otot kaki yang mengayuh sepeda, bukan sepeda elit macam polygon ataupun pacific, tetapi sepeda jengki yang sebagian orang sudah malu untuk memakainya. Hal ini bukan terbatas pada para pelajar SD, bahkan siswa SMP dan SMA yang sudah mulai mengenal gengsi, yang jika hidup di Jepara pasti sudah merengek minta dibelikan sepeda motor keluaran terbaru, juga memakainya (tidak semua memang, kebumen bukan tak tersentuh pengaruh budaya ”anak gaul”). Dan lagi-lagi, nuansa yang sudah jarang (tidak lagi?) ditemui di Semarang.
Ketika malam datang, beberapa muda-mudi dan pasangan suami-istri beserta anak-anaknya terlihat berkayuh mesra dengan sepeda, atau jika melihat pada satu-satunya mall di sana (Rita, pasar raya) kemilau logam sepeda onthel masih banyak menghiasi tempat parkir, hal yang sama juga terlihat di Hotel Candisari (tempat transit personel Letto di malam sebelumnya). Suasana kesenyapan terasa sangat kental di sana, kota ini bukan kota yang tak pernah mati. Jarum jam baru menunjuk angka 10, sudah tak banyak kendaraan yang lalu-lalang di alun-alun kota, sangat kontras dengan suasana Simpang Lima Semarang apalagi di kota Jakarta yang tak pernah tidur.
Jawa Tengah tentu tahu bahwa Bupati kota itu sekarang ikut meramaikan bursa pemilihan Gubernur, hal yang sama dengan yang terjadi di Semarang. Jika di Semarang bahkan papan iklan di Pandanaran (kalau tak salah ingat) pun tak lepas dari pampangan foto Walikota calon Gubernur (entah bayar atau tidak), di kebumen hanya ada beberapa spanduk sosialisasi cagub, itupun berdampingan dengan spanduk dari cagub lain. Kalau diadakan penghitungan resmi prosentase jumlah spanduk yang terpasang, mungkin masing-masing cagub berimbang, sama sekali tak terlihat yang satu lebih dominan dari yang lain.
Ya, dari potensi pariwisata maupun industri, Kebumen memang kalah dari Kudus, Magelang, Jepara, apalagi Semarang. Tapi nuansa kebersahajaan yang ada, kini tak tak banyak tersisa dari kota-kota itu. Nuansa khas yang tentu masih ada di kota lain, tetapi Kebumen benar-benar menentramkan hati seorang mahasiswa rantau yang tak terbiasa dengan kayuhan pedal sepeda.
Ahmad Fahmi Mubarok
Hal-hal Kecil yang Dilematis
Ketika berada di sebuah warung yang menyediakan Mie Ayam dan Bakso, memilih menu untuk makan malam adalah hal kecil.
Ketika selesai mandi dan bersiap-siap berangkat kuliah, akan memakai baju yang mana adalah hal kecil.
Ketika berjalan-jalan di sebuah swalayan, melihat-lihat dan menimbang-nimbang pajangan parfum beraneka aroma, adalah hal kecil.
Ketika memilih untuk menonton inbox atau naruto pada minggu pagi, adalah hal kecil.
Ketika merancang letak sebuah poster baru dalam dinding kamar, adalah hal kecil.
Ketika bermain sepak bola, memutuskan menggiring bola atau mengumpan pada rekan, adalah hal kecil.
Ketika sejenak berpikir apakah akan potong rambut hari ini, esok pagi, esoknya lagi, minggu depan, atau entah kapan, aalah hal kecil.
Ketika sedang berada di kamar mandi, bernyanyi, bersiul, atau diam saja adalah pilihan kecil.
Ketika sedang berbicara, memilih satu diantara jutaan kata dalam perbendaharaan konstruk ketatabahasaan, adalah hal kecil.
Ketika suatu waktu sedang memegang gitar, memilih bernyanyi lagu Scorpion atau Peterpan, adalah hal kecil.
Ketika berhadapan dengan suatu pilihan, ada proses kognitif di sana, yang melibatkan aspek-aspek emosi. Memilih memenangkan rasionalitas atau perasaan, adalah sebuah hal yang dilematis. Rasionalitas yang tercermin dalam dominasi Tes Binet, WAIS, dll, dan rangsekan Daniel Goleman tentang pentingnya pengaruh emosi yang justru lebih dari sekedar tabiat laten, emosionalitas yang tak kalah penting dan dapat dipelajari. Perseteruan klasik itu adalah dilema yang telah meluas dan membahasakan dirinya dalam realitas. Rasionalitas yang hanya bisu ketika jantung berdegup kencang karena beradu pandang dengan makhluk pujaan. Rasionalitas adalah laki-laki, dan emosionalitas adalah perempuan, dan keduanya saling melengkapi. Konstruk meskulin-feminin yang telah mengakar dalam suatu kebudayaan, juga digugat karena memang dilematis. Dan tak lupa ada spontanitas yang banyak kali terjadi dalam dilema-dilema tertentu.
Dilema ada ketika berada pada suatu pilihan, entah hal-hal yang termasuk penting atau kecil, dilema tetaplah dilema. Dilema selalu harus ada prioritas, yang sangat beragam pada masing-masing idividu. Dilema menjadi penting ketika melibatkan pilihan yang penting, hidup-mati misalnya. Begitu juga dilema akan segera berakhir saat mata memutuskan untuk sekedar melihat rok yang tersingkap dalam sekejap. Tetapi dilema tetaplah dilema, meskipun itu dianggap besar ataupun kecil, akan ada upaya penyelesaian untuk itu. Seringkali ada satu alternatif yang dianggap jitu untuk menyelesaikan sebuah dilema. Sering pula satu solusi untuk banyak dilema, satu obat untuk segala penyakit, seperti tablet APC di Belitong, kata Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi-nya. Dilema harus selesai, dengan adanya solusi yang nyata-kongkrit, layaknya sebuah cangkir yang bisa dipegang dan dibanting. Dilema harus terselesaikan, dianggap sebuah misi rahasia seharga jutaan rupiah. Entah ameliorasi atau peyorasi, mungkin pasti.
Sebuah dilema meniscayakan proses, bukan hanya mengharuskan penyelesaian yang lagi-lagi dilematis. Ada proses di situ, memilih, menentukan, memutuskan, yang selalu terkait dengan skala prioritas hidup. Ya, entah besar atau kecil, hal-hal yang dilematis pasti melibatkan prioritas pelaku dilema itu. Prioritas selalu melekat, menjadi bagian dari dilema, seperti halnya dilema itu sendiri yang melekat dan menjadi bagian dari keseharian manusia.
Lalu, jika dilema harus terselesaikan, jika penyelesaian itu harus kongkrit-praksis-praktis, haruskah satu hal yang telah memenuhi kriteria kongkrit-praksis-praktis, dipaksakan? Itu juga sebuah dilema, apakah satu hal itu benar-benar ”benar”, setelah mengalami transformasi yang tak pernah lepas dari reduksi dan distorsi. Sesuatu yang telah tak bisa lepas dari segumpal lumpur yang hina-dina tetapi eksotis? Lagi-lagi itu adalah dilema.
Ahmad Fahmi Mubarok
Cerita Tentang Itu
Wiridan itu putus, memang tak pandai saja konsentrasiku. Kerumunan teman-teman yang seperti ngerumpi, membicarakan semuanya tanpa bekas, tanpa tujuan tetapi menyenangkan. Mungkin itu yang banyak dilupakan orang sekarang, semuanya harus praktis dan bertujuan. Ini pasti gara-gara materialismenya Marx itu.. Oh, tidak. Ternyata mereka sedang saling berempati. Seseorang ditengah kerumunan matanya berkaca-kaca, bahkan basah tak beda dengan rutinitas Kaligawe yang membuat rantai sepeda motorku jadi kendur selain karena jarang servis di bengkel. Sayup-sayup terdengar “tadi dia dapet telpon, ayahnya meninggal”. Aku puaskan diriku dengan informasi itu, dan berjalan lagi. Maaf teman, bukan maksudku tidak berempati, tapi empatiku agaknya hanya semakin menambah kesedihanmu yang datang tiba-tiba.
Sambil berjalan, kuraba diriku. Aneh, aku biasa saja, pun dalam kuliah. Hanya saja terus terpikirkan. Bagaimana jika itu tiba-tiba teralamatkan kepadaku? Bagaimana jika aku yang itu? Adakah yang mau menangis demi aku dan kesedihan itu? Egois sekali memang, tapi semua orang harus egois setidaknya jika saat tujuan dari semua kehidupan itu tiba. Sempat tersungging senyum di bibir, kekagumanku pada ayah temanku. Dalam awal dunia barunya, ada yang menangisi kepergiannya. Rupanya ia masih sangat dibutuhkan oleh orang lain, dia berguna bagi yang lain, dia orang baik.
Dari sisi lain, pastinya seorang teman itu tak menyangka, ketika tadi mandi, berangkat kuliah, sampai akhirnya mendapatkan kabar telpon. Bukan lagi telegram yang boros segalanya, si Marx sekarang bukan lagi kiri! Mungkin saja dari awal dia mengira hari-harinya akan seperti hari-hari sebelumnya.
Pikiranku telah kembali pada jalannya kuliah. Pak dosen menjelaskan teori behavioristik, setiap perilaku adalah baru, tidak ada hal yang sama persis! Semua stimuli itu baru, sehingga responnya juga baru. Senin lalu, di ruang yang sama juga kuliah dengan mata kuliah yang sama. Tetapi materinya berbeda, suhu udara, pakaian yang kami kenakan, cuaca, dan lain-lain yang berbeda. Semuanya itu baru dan menimbulkan respon yang baru. Katanya perilaku manusia suatu “lingkaran setan” stimulus-respon. Sederhana sekali memang, seperti rumusan persamaan kuadrat atau segitiga Phytagoras. Phyitagoras juga berkata “semesta adalah suatu keseluruhan yang teratur” semua bisa dirumuskan baginya. Wajar saja, Cak Nun yang mengatakan “dunia adalah tempat ketidak pastian, dan manusia adalah makhluk ketidak pastian” memang belum lahir. Tapi berbeda bukan dosa, tak apalah.
Pak dosen juga bercerita masa mudanya, yang pernah menuliskan sesuatu tentang malam. Malam yang datang kala mentari mohon diri. Mengutip syair lagu Pas Band “malam hari tetaplah malam, tak pernah dia menghilang..” ya, dalam gemerlap bintang ataupun kelabunya mendung, malam tak akan dibahasakan siang. Mungkin si teoris (behavioristik) itu terlupa dengan satu pepatah klasik inggris “there is nothing new under the sun” dan belum tahu syair lagu Scorpion “and we are live under the same sun..”
Semoga ini tidak dimaknai menari di atas kesedihan orang lain, tapi kata Derrida tidak ada selain penafsiran yang berbeda. Sudahlah, terserah saja..
Embun pagi ini,
segar dan bening,
lembut dan dingin,
Seperti embun kemarin.
Usia terlalu singkat,
untuk terus berharap.
Jiwa terlalu lemah,
untuk selalu pasrah.
Innalillahi wainnailaihi roji’un..
Ahmad Fahmi Mubarok